Profil Sekolah Kembali

Mengapa anak kita harus hafal Al-Qur'an?

Tahfidzul Qur'an (menghafal Al-Qur'an) adalah materi ajar paling tepat diberikan kepada anak usia dini. Kami yakin, usia 4-6 tahun adalah usia paling cemerlang dari perjalanan hidup manusia untuk diberikan materi hafalan Al-Qur'an. Tentu saja di usia tersebut anak-anak belum siap untuk diberikan pelajaran berhitung, menulis, membaca, apalagi sains dan teknologi. Namun sejarah telah membuktikan, anak-anak di usia sebelum 7 tahun ternyata telah bisa dijadikan hafidz Qur'an 30 juz. Sebagaimana telah mentradisi di Timur Tengah. Banyak anak-anak yang hingga kini telah hafal Al-Qur'an di usia sebelum 7 tahun. Setiap tahunnya di beberapa negara Arab diselenggarakan musabaqah hifdzul Qur'an (lomba hafalan Al-Quran) 30 juz yang pesertanya hanya untuk anak-anak. Musabaqah yang biasanya diselenggarakan setiap bulan Ramadhan ini selalu disambut antusias masyarakat Timur Tengah hingga kini. Justru para orang tua merasa malu jika anak-anak mereka tidak lolos mengikuti musabaqah tersebut. Inilah salah satu mukjizat Al-Qur'an yang bisa dihafal oleh anak-anak di usia masih sangat belia. Dari generasi salaful ummah hingga kini, tradisi menghafal Al-Qur'an selalu dijadikan sebagai pembelajaran awal sebelum anak belajar ilmu-ilmu yang lain. Sebagaimana dijelaskan Ibnu ‘Abdul Bar, طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه (menuntut ilmu ada tingkatan-tingkatan yang harus dilalui. Siapa yang melalui tahapan tersebut maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan tahapan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘Azza wa Jalla dan memahaminya).

Mengapa harus TAUD (Tahfidz Anak Usia Dini) ?

Tahfidzul Qur'an (menghafal Al-Qur'an) adalah materi ajar paling tepat diberikan kepada anak usia dini. Kami yakin, usia 4-6 tahun adalah usia paling cemerlang dari perjalanan hidup manusia untuk diberikan materi hafalan Al-Qur'an. Tentu saja di usia tersebut anak-anak belum siap untuk diberikan pelajaran berhitung, menulis, membaca, apalagi sains dan teknologi. Namun sejarah telah membuktikan, anak-anak di usia sebelum 7 tahun ternyata telah bisa dijadikan hafidz Qur'an 30 juz. Sebagaimana telah mentradisi di Timur Tengah. Banyak anak-anak yang hingga kini telah hafal Al-Qur'an di usia sebelum 7 tahun. Setiap tahunnya di beberapa negara Arab diselenggarakan musabaqah hifdzul Qur'an (lomba hafalan Al-Quran) 30 juz yang pesertanya hanya untuk anak-anak. Musabaqah yang biasanya diselenggarakan setiap bulan Ramadhan ini selalu disambut antusias masyarakat Timur Tengah hingga kini. Justru para orang tua merasa malu jika anak-anak mereka tidak lolos mengikuti musabaqah tersebut. Inilah salah satu mukjizat Al-Qur'an yang bisa dihafal oleh anak-anak di usia masih sangat belia. Dari generasi salaful ummah hingga kini, tradisi menghafal Al-Qur'an selalu dijadikan sebagai pembelajaran awal sebelum anak belajar ilmu-ilmu yang lain. Sebagaimana dijelaskan Ibnu ‘Abdul Bar, طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه (menuntut ilmu ada tingkatan-tingkatan yang harus dilalui. Siapa yang melalui tahapan tersebut maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan tahapan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘Azza wa Jalla dan memahaminya).

Mengapa anak kita harus hafal Al-Qur'an?

Kebanyakan para orang tua sangat bahagia ketika anaknya mendapatkan gelar/ titel akademis. Setelah bekerja membanting tulang untuk menyekolahkan/ menguliahkan anaknya, akhirnya anaknya bisa bergelar Dr, Ir, SE, S.Pd, dan seterusnya. Namun apakah semua gelar akademis tersebut menjadikannya sebagai orang yang lurus menjalani kehidupan? Tapi percayalah, dengan Al-Qur'an ia mendapatkan bimbingan ilahiyah untuk lurus dalam kehidupan. Sebagaimana Firman Allah SWT, إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ "Sesungguhnya Al-Qur'an ini menunjukkan kepada (jalan) yang lebih lurus." (QS. Al-Isra' [17]: 9). Apakah gelar/ titel akademis menjamin anak-anak kita menjadi orang terbaik? Ternyata Al-Qur'an memberikan jaminan bahwa para hafidznya disebut sebagai manusia terbaik. Sebagaimana sabda Nabi SAW, خيركم من تعلم القرآن وعلَّمه "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya." (HR. Bukhari no. 4639). Jadi, seberapa dekat kita dengan Al-Qur'an- lah yang menentukan derjat kita. Orang terbaik atau terburuk, hina atau mulia, semuanya bergantung seberapa dekat kita dengan Al-Qur'an. Sebagaimana Sabda Nabi SAW, إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين "Sesungguhnya dengan Al-Kitab (Al-Qur'an) inilah Allah mengangkat (derjat) seseorang/ suatu kaum. Dan dengan (Al-Qur'an ini jua lah) Allah menghinakan yang lain." (HR. Muslim, no. 817). Para hafidz Qur'an lah yang disebut sebaik-baik manusia, orang yang ditinggikan derjatnya, dan sampai-sampai disebut sebagai keluarga Allah SWT yang ada di muka bumi. Jika ada mereka ditengah-tengah suatu kaum, maka mereka-lah yang paling layak untuk diangkat sebagai pemimpin. Sebagaimana sabda Nabi SAW, يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله "Hendaknya yang memimpin/mengimami sebuah kaum adalah orang yang paling aqra’ terhadap kitabullah." (HR. Abu Daud, no. 582). Bukankah mempersiapkan generasi penghafal Al-Qur'an adalah jalan mempersiapkan pemimpin masa depan? Tidakkah cukup membanggakan jika anak-anak kita kelak bisa menjadi pemimpin umat dan bangsa ini? Yang lebih membanggakannya, anak-anak yang hafal Al-Qur'an menjadi investasi besar di akhirat bagi orang tuanya. Mereka-lah yang akan menobatkan mahkota dan pakaian kehormatan kepada kedua orang tuanya yang telah menjadikan mereka hafidz Qur'an. Sebagaimana Sabda Nabi SAW, من قرأ القرآن وتعلَّم وعمل به أُلبس والداه يوم القيامة تاجاً من نور ضوؤه مثل ضوء الشمس ، ويكسى والداه حلتين لا تقوم لهما الدنيا فيقولان : بم كسينا هذا ؟ فيقال : بأخذ ولدكما القرآن "Siapa yang membaca (hafal) Al-Qur'an, mengkajinya, dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, 'Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?' Lalu disampaikan kepadanya, 'disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran'." (HR. Hakim jilid 1 no.756). Al-Qur'an sendiri yang akan datang memberi syafaat/ pertolongan di akhirat bagi orang yang mejaganya semasa di dunia. Inilah investasi terbesar para orang tua terhadap aset terbesar mereka, yakni anak-anak mereka. Sebagaimana sabda Nabi SAW, يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً "Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, 'Ya Allah, berikan dia perhiasan'. Lalu Allah SWT memberikan seorang hafidz al-Qur'an mahkota kemuliaan. Al-Qur'an meminta lagi, 'Ya Allah, tambahkan untuknya'. Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian Al-Qur'an meminta lagi, 'Ya Allah, ridhai dia'. Kemudian Allah SWTpun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz Al-Qur'an tersebut, 'Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca'." (HR. Tirmudzi no. 3164).

Apa Metode Tahfidzul Qur'an yang digunakan TAUD Semut-Semut?

Anak usia 4-6 tahun belum tepat diberikan materi tajwid. Tidak ada materi tahsin untuk anak-anak yang mungkin berbicara saja masih belum lurus. Namun mereka sudah bisa belajar mengucapkan apa yang mereka dengar. Inilah yang kami sebut dengan talqin (Arab: تلقين) yaitu mendiktekan satu kalimat, kemudian anak-anak didik mengulang-ulangnya kembali. Kami yakin, metode ini adalah metode terbaik yang dengannya Para Nabi dan Sahabat RA diajarkan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul dari (bangsa) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, dan mensucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 151). Para sahabat belajar Al-Qur'an dengan Nabi SAW dengan cara يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِنَا (membacakan kepadamu ayat-ayat Kami). Kita meyakini, para Sahabat sebagai generasi terbaik tentu dihasilkan dengan metode belajar yang terbaik pula. Kita tentu menginginkan anak-anak kita menjadi generasi terbaik. Mengapa tidak kita adopsi saja metode belajar terbaik yang dipakai Para Sahabat tersebut? Mentalqinkan Al-Qur'an juga menjadi metode belajar anak-anak yang ada di Timur Tengah. Metode klasik ini telah berhasil mencetak para hafidz dari dahulu hingga kini. Mereka telah hafal Al-Qur'an 30 juz di usia belia karena rahmat Allah SWT dan disiplin menggunakan metode talqin. Mentalqinkan Al-Qur'an bahkan sudah bisa dimulai semenjak manusia masih berada dalam kandungan ibunya. Ia sudah mendengar dan menyimak lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan kepadanya. Seorang bayi yang belum bicara sekalipun, sudah menyimpan di memorinya ketika Al-Qur'an dibacakan. Hati mereka putih bersih dan merekam dengan baik apa saja yang didengarnya. Mengapa tidak kita isi rekaman tersebut dengan Al-Qur'an?

Akhlaqul Karimah sebagai materi tambahan Tahfidzul Qur'an

Selain diajarkan menghafal Al-Qur'an, anak-anak didik juga diberikan materi adab dan akhlak. Pola pengajaran yang sederhana namun menarik. Yakni, dengan metode berkisah (sirah). Metode berkisah adalah metode paling menarik dan efektif bagi anak-anak. Metode ini dipercaya sangat tepat untuk membangun karakter dan kepribadian mereka. Karena anak-anak didik harus punya figur yang ia idolakan sebagai inspirasi awal pembentukan kepribadiannya. Berkisah adalah cara penggambaran terhadap figur akan akan diidolakannya. Di dunia Barat, mereka tidak punya figur-figur yang bisa mereka idolakan. Akhirnya mereka membuat figur-figur khayalan seperti super hero, sang pahlawan kebaikan penyelamat dunia. Sebutlah seperti ; Superman, Spiderman, dan sebagainya. Umat Islam tak butuh figur-figur bohongan seperti itu. Karena dalam literatur Islam ditemukan banyak sekali tokoh-tokoh hebat dan itu benar-benar nyata dan pernah menorehkan sejarah di muka bumi. Ada kisah para Nabi dan Rasul, ada kisah para Sahabat Nabi SAW, orang-orang shaleh, para ulama, para syuhada, dan sebagainya. Semua figur yang sangat banyak tersebut bisa dijadikan idola dan inspirasi bagi anak-anak didik. Materi pendidikan akhlakul karimah disampaikan dengan mengisahkan figur tokoh-tokoh tersebut. Sebagai contoh; untuk mengajarkan keberanian, maka kisahkan lah kepada anak-anak didik figur Umar bin Khattab RA. Mengajarkan sifat malu dengan kisah Utsman bin Affan RA, dst. Literatur Islam mempunyai banyak sekali tokoh-tokoh inspiratif. Al-Qur'an mengisahkan 25 Nabi dan Rasul serta kisah-kisah orang shaleh lainnya. Dalam riwayat-riwayat juga ditemui kisah para nabi selain yang dikisahkan dalam Al-Qur'an. Ada 120.000 jumlah para Sahabat Nabi SAW dengan berbagai sisi-sisi kehidupan yang sangat menarik untuk dikisahkan. Ada jutaan kisah para tabi'in, tabi' tabi'in, orang-orang shaleh, para ulama, para syuhada (pejuang), hingga kisah ulama-ulama kontemporer. Jadi umat Islam tidak pernah kekurangan stok kisah untuk disampaikan kepada anak-anak didik. Sekali lagi, kita tidak butuh figur Superman, Spiderman, dsb untuk anak-anak kita!